I am collecting every Islamic article from trusted sites. As my collection and sharing for everyone.

Thursday, January 20, 2011

Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka. Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.


Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam

Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82)
Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;

Marhalah pertama:
Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.


Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:
  1. Pemboikotan (embargo) Ekonomi: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75)
  2. Membangkitkan fitnah dan kebencian: Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهَ اللهَ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.” Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya: Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99)
  3. Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.
  4. Memata-matai kaum Muslimin: Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119)
  5. Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49)
Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.
Marhalah kedua:
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:
  1. Pengusiran Bani Qainuqa’
  2. Pengusiran bani Al Nadhir
  3. Perang Bani Quraidzoh
  4. Penaklukan kota Khaibar
Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.
Marhalah ketiga:
Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:
  1. Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
  2. Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
  3. Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.
Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:
  1. Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.
  2. Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H. Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.
  3. Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk.
Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:
  1. Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
  2. Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
  3. Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.
Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:
  1. Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
  2. Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
  3. Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
  4. Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
  5. Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.
Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.
Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.

http://muslim.or.id/manhaj/yahudi-islam-dalam-sejarah.html

Wednesday, January 19, 2011

Hentikan mengumpat

SALAH satu sikap buruk yang ada pada manusia adalah mengumpat atau mengatakan perihal seseorang. Ada antara kita terutamanya golongan wanita cukup suka mengumpat.
Setiap hari ada sahaja perkara yang mahu diumpatkan dan paling mereka suka apabila ia berkaitan dengan rumahtangga atau hal peribadi seseorang.

Kalau yang diumpatkan itu musuh mereka maka semakin bersemangatlah mereka mengumpat sehingga akhirnya tanpa mereka menyedari mereka tergolong dalam golongan yang melakukan fitnah.
Rasulullah SAW menjelaskan mengenai mengumpat seperti mana sabda baginda yang bermaksud: Mengumpat itu ialah apabila kamu menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu perkara yang dibencinya. (riwayat Muslim)

Memandangkan betapa buruk dan hinanya mengumpat, ia disamakan seperti memakan daging saudara seagama. Manusia waras tidak sanggup memakan daging manusia, inikan pula daging saudara sendiri.
Dosa mengumpat bukan saja besar, malah antara dosa yang tidak akan diampunkan oleh Allah biarpun pelakunya benar-benar bertaubat. Dosa mengumpat hanya layak diampunkan oleh orang yang diumpatkan.
Selagi orang yang diumpatnya tidak mengampunkan, maka dosa itu akan kekal dan menerima pembalasannya di akhirat.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Awaslah daripada mengumpat kerana mengumpat itu lebih berdosa daripada zina. Sesungguhnya orang melakukan zina, apabila dia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang melakukan umpat tidak akan diampunkan dosanya sebelum diampun oleh orang yang diumpat. (riwayat Ibnu Abib Dunya dan Ibnu Hibban)

Disebabkan mengumpat terlalu biasa dilakukan, maka ia tidak dirasakan lagi sebagai satu perbuatan dosa. Hakikat inilah perlu direnungkan oleh semua.

Mengumpat dan mencari kesalahan orang lain akan mendedahkan diri pelakunya diperlakukan perkara yang sama oleh orang lain. Allah akan membalas perbuatan itu dengan mendedahkan keburukan pada dirinya.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Wahai orang beriman dengan lidahnya tetapi belum beriman dengan hatinya! Janganlah kamu mengumpat kaum muslim, dan janganlah kamu mengintip-intip keaibannya. Sesungguhnya, sesiapa yang mengintip keaiban saudaranya, maka Allah akan mengintip keaibannya, dan dia akan mendedahkannya, meskipun dia berada dalam rumahnya sendiri. (riwayat Abu Daud)

Orang yang mengumpat akan mendapat kerugian besar pada hari akhirat. Pada rekod amalan mereka akan dicatatkan sebagai perbuatan menghapuskan pahala.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda yang bermaksud: "Perbuatan mengumpat itu samalah seperti api memakan ranting kayu kering".

Pahala yang dikumpulkan sebelum itu akan musnah atau dihapuskan seperti mudahnya api memakan kayu kering sehingga tidak tinggal apa-apa lagi.

Diriwayatkan oleh Abu Ummah al-Bahili, di akhirat seorang terkejut besar apabila melihat catatan amalan kebaikan yang tidak pernah dilakukannya di dunia.

Maka, dia berkata kepada Allah: "Wahai Tuhan ku, dari manakah datangnya kebaikan yang banyak ini, sedangkan aku tidak pernah melakukannya". Maka Allah menjawab: "Semua itu kebaikan (pahala) orang yang mengumpat engkau tanpa engkau ketahui".

Sebaliknya, jika pahala orang yang mengumpat tidak ada lagi untuk diberi kepada orang yang diumpat, maka dosa orang yang diumpat akan dipindahkan kepada orang yang mengumpat. Inilah dikatakan orang muflis di akhirat kelak.

Memandangkan betapa buruknya sifat mengumpat, kita wajib berusaha mengelakkan diri daripada melakukannya. Oleh itu perbanyakkanlah zikir supaya dapat menghindarkan diri daripada mengumpat.
Justeru tinggalkan amalan buruk berkenaan. Janganlah kita melampaui batas apabila kita tidak menyukai seseorang sehingga kita sanggup memburuk-burukkkannya di belakang.

Ingatlah setiap apa yang kita lakukan pasti ada pembalasan sama ada ia perbuatan baik atau sebaliknya.

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2011&dt=0119&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_02.htm

Wednesday, December 22, 2010

Masjid di Taiwan tunjang syiar Islam


Ruang solat utama seakan masjid di Malaysia.


SETIAP Ahad, masjid-masjid di Taiwan dipenuhi pelajar asing dan kanak-kanak Islam untuk mengikuti kelas mempelajari bahasa Arab, al-Quran dan aktiviti agama.

Masjid di sana bukan hanya berfungsi sebagai tempat beribadat dan menganjurkan ceramah, tetapi menjadi pusat utama bagi penduduk Islam mengikuti ilmu keagamaan.

Pusat ibadah itu turut menjadi tempat tumpuan dan kunjungan masyarakat Islam di Taiwan untuk melaksanakan aktiviti pada hari-hari keagungan Islam seperti Ramadan, tarawih, solat sunat Aidilfitri serta Aidiladha.

Ini membuktikan Taiwan yang dulunya dianggap sebuah negara komunis memberi kebebasan beragama kepada penduduknya.

Namun, disebabkan penganut Islam di sana adalah golongan minoriti iaitu hanya sekitar 50,000 orang, kemudahan untuk mereka terhad.

Justeru, di seluruh Taiwan yang berkeluasan 35,915 kilometer (km), ia hanya mempunyai enam masjid.
Bagi memudahkan penganjuran aktiviti keagamaan dan menjaga kepentingan masyarakat Islam di negara itu, Persatuan Muslim China (CMA) ditubuhkan di Wuhan pada 1938.

Pada awal penubuhannya, CMA dikenali sebagai Persatuan Penyelamat Kebangsaan Islam dan ketika itu, ia mensasarkan kepada usaha untuk membantu kerajaan menentang serangan Jepun.

Selepas kerajaannya berpindah ke Taiwan, segelintir ahli persatuan itu dengan sokongan majoriti pesertanya merombak semula dan menamakannya sebagai CMA.

Hari ini, CMA menjadi sebuah persatuan yang sangat penting di Taiwan kerana ia umpama jambatan atau orang tengah yang menghubungkan kepentingan masyarakat Islam kepada kerajaan sehingga wujudnya pasaran halal di negara itu.

CMA turut menganjurkan lawatan tahunan ke negara-negara Islam lain bagi mengukuhkan hubungan masyarakat Islam di kedua-dua negara dan menjadi tulang-belakang wujudnya enam buah masjid di Taiwan.
Menariknya mengenai kewujudan masjid di sana yang ingin penulis kongsikan, ia didirikan dengan usaha penganut Islam di situ yang mencari dan mengumpul dana sendiri atau melalui sumbangan mana-mana pihak kerana kerajaan tidak membiayainya.

Demi memperkukuhkan kepentingan Islam, menyempurnakan aktivitinya dan memberi keselesaan kepada penganut, usaha bagi mendirikan masjid bukan satu masalah kepada penduduk Muslim di situ.
Pembinaan masjid pertama dan terbesar di Taiwan iaitu Masjid Besar Taipei yang terletak di Jalan Daan, Bandar Taipei, didirikan dengan sumbangan kos diberikan kerajaan Arab Saudi, Malaysia, Iran dan Jordan selain pinjaman tanpa riba kerajaannya.

Siap dibina tanggal 13 April 1960, struktur rekaan arkitek tersohor, Yang Chuo-Cheng itu mempunyai keluasan 2,747 meter persegi dan diiktiraf majlis bandar Taipei sebagai kawasan bersejarah pada 26 Jun 1999.

Kemudian, masjid kedua di Taiwan yang terletak di Kaohsiung, Masjid Kaohsiung dibina bagi menampung pertambahan penduduk Islam di negara itu.

Dengan penyediaan Pusat Kebudayaan Islam, masjid berkenaan membantu masyarakat Muslim Taiwan untuk mengikuti ceramah keagamaan dan mendalami ilmu Islam.

Ia turut memberi peluang dan memudahkan kanak-kanak Taiwan untuk mempelajari bacaan al-Quran dan mengikuti kelas agama.

Selepas itu, dua buah pusat ibadah Islam, Masjid Long Gang dan Masjid Taichung dibina melalui dana yang diperoleh CMA.

Didirikan pada 1964, Masjid Long Gang yang terletak di Taoyuan County dibina hasil dana dikumpul CMA melalui sumbangan masyarakat dan organisasi.

Sementara itu, Masjid Taichung yang sebelum itu dibina dalam keadaan kurang sempurna kerana dana yang terhad, didirikan kembali di sebuah kawasan hasil cadangan dan sumbangan kewangan Menteri Pengangkutan Saudi yang mengadakan lawatan ke Taiwan.

Beberapa tahun kemudian, Masjid Kebudayaan Taipei disiapkan pada 1984 di Taipei diikuti Masjid Tainan yang dibina di Tainan.

Sebelum wujudnya Masjid Tainan, masyarakat Islam Taiwan perlu berulang-alik ke Kaohsiung untuk menyertai aktiviti masjid.

Menyedari kepayahan itu, seorang rakyat Islam Taiwan yang menetap di Amerika Syarikat mendermakan sebuah tanahnya di Tainan untuk pembinaan masjid.

Penduduk setempat mendapatkan dana daripada Masjid Kaohsiung untuk menyiapkan pembinaan masjid itu pada 1996 yang mana ia menyediakan bangunan kedai, bilik mesyuarat, tandas, dewan solat dan pejabat.

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=1223&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_06.htm

Al-Baqarah 'jentik' Samuel

SAYA dilahirkan sebagai Samuel Taliwongso dalam sebuah keluarga Kristian yang sangat fanatik dari Desa Teling, Manado Indonesia. Bapa saya merupakan pengasas penubuhan Gereja Seven Day Advent di desa kami," kata Samuel yang menerima pendidikan awalnya di Advent Zending School iaitu sebuah sekolah mubaligh.

"Setiap hari semasa kecil itu, saya harus menghafal dan mengingat sepenuhnya sekurang-kurangnya lima fasal atau surah daripada Kitab Injil sebagaimana yang diarahkan oleh mendiang bapa," katanya.

Beliau kemudiannya melanjutkan pelajaran ke MULO yang sama seperti SPM namun bermula dari saat itu juga menyaksikan Samuel terlibat dalam perjuangan bersama-sama rakyat Indonesia lain untuk membebaskan negara mereka daripada penjajahan Belanda.

"Bagi pemerintah Belanda kelompok-kelompok seperti kami dikenali sebagai The Hogder for Soekarno (Anjing-anjing Soekarno) dan dilabelkan sebagai pemberontak," katanya.

Akibatnya Samuel menjadi sasaran dan sering diburu oleh pihak penjajah yang menyebabkan anak muda ini terpaksa lari dan menyembunyikan diri dan sehinggalah pada tahun 1947, Samuel akhirnya berjaya sampai ke Belanda.

Di Belanda, Samuel berkerja di sebuah syarikat minyak kepunyaan Syarikat Hindia Belanda dan diberi kepercayaan untuk mengetuai Jabatan Bahagian Perkapalan.
Selain menjalankan tugas sebagai ketua jabatan, Samuel masih tidak melupakan tanggungjawab sebagai seorang pemimpin gereja.

"Saya mengajarkan Kitab Injil kepada para jemaah gereja. Selain berusaha memurtadkan penganut Islam. Inilah kewajipan sebagai seorang pendeta atau pembaptis," katanya.
Perkara ini tidak menghairankan kerana sebelum ini pun, Samuel sudah mempunyai pengalaman membangunkan sebuah gereja dan membaptiskan beberapa orang gadis Islam yang berasal dari Gorontalo untuk dijodohkan dengan pemuda-pemuda Kristian

Pada tahun 1962 berlakulah satu peristiwa yang dikenali sebagai Dwikora@Trikora apabila penjajah Belanda menganggap seluruh penduduk Indonesia sebagai musuh.
"Saya termasuk salah seorang daripadanya. Lantas bagi mengelak daripada diberkas, saya terpaksa berkerja sebagai buruh binaan."

Apabila keadaan menjadi aman, beliau bersama-sama rakan yang senasib; Leo Tembeleng, Herard G. Nori dan W Oro, memberanikan diri menemui Gabenor Belanda pada masa itu, iaitu Gabenor Van Baal meminta kebenaran pulang ke Indonesia dengan jaminan keselamatan.

Van Baal setuju dengan syarat Samuel dan rakan-rakannya dikehendaki menaiki sebuah kapal laut yang menggunakan bendera negara Belanda. Bagaimanapun mereka tidak bersetuju.

Akhirnya, mereka berjaya menumpang sebuah kapal yang mengibarkan bendera negara Panama untuk pulang ke Jakarta. Kapal tersebut adalah milik seorang ahli perniagaan berbangsa Tionghua dari Singapura.

Untuk tujuan keselamatan mereka dibekalkan dengan sepucuk surat jaminan keselamatan yang ditulis sendiri oleh Bahagian Sekretaris Urusan Irian Barat (SUIB) dan Samuel sendiri diberi kepercayaan untuk menjadi ketua rombongan itu.

Sehinggalah pada suatu malam, pelayaran mereka dilanda ribut kencang. Dalam keadaan yang sangat mencemaskan itu, ada seorang penumpang kapal yang beragama Islam yang dikenali sebagai Latoke berasal dari Makassar yang menimbulkan kehairanan kepada para penumpang lain. Apa tidaknya, dalam keadaan gawat itu, Latoke dilihat sedang mendirikan sembahyang.

Tambah menghairankan, seusai solat, Latoke seperti tidak menghiraukan kapal yang boleh pecah dan tenggelam bila-bila masa. Malah dengan tenang beliau mengambil sebuah buku (al-Quran), terus membacanya dengan begitu khusyuk.

"Tentu sahaja saya berasa jengkel melihatkan Latoke itu walaupun kami benar-benar hairan bagaimana Muslim ini tidak muntah, tidak mabuk laut, malah begitu stabil tidak seperti kami yang lain," katanya.
Keesokan harinya, ribut kembali membadai, kali ini lebih dahsyat. Dalam keadaan kapal yang teroleng-oleng dipukul ombak dan hujan ribut petir yang sangat ganas, Samuel akhirnya berjaya menghampiri Latoke untuk mengetahui buku apa yang dipegang erat Latoke.

Barulah Samuel menyedari 'buku' tersebut adalah sebuah kitab suci yang sangat hampir kepada umat Islam, iaitu terjemahan al-Quran karangan Muhammad Yunus terbitan Toko Buku Gunung Agung, JI Kwitang, Jakarta.

"Secara curi-curi saya pun terus menyelak kitab tersebut kebetulan pada lembaran yang ditanda oleh Latoke. Iaitu surah al-Baqarah ayat 136," kata Samuel. Samuel sangat terkejut apabila membaca tafsiran ayat tersebut!

"Sungguh saya terkejut kerana barulah saya tahu ternyata umat Islam itu tidak sahaja percaya kepada Muhammad (Nabi) sahaja. Sebelum ini saya menyangka orang Islam tidak percaya adanya Tuhan (Allah) dengan mempercayai Muhammad semata-mata, tidak percaya kepada Nabi Isa, Nabi Daud dan lain-lain Nabi yang turut dipercayai oleh kalangan yang bukan Islam, Kristian," kata Samuel.

Seketika itu juga badai mula kembali hilang, laut kembali tenang namun meninggalkan Samuel yang merenung lautan lepas dan mahu mencari jawapan apabila ayat itu benar-benar membuatkan beliau dihujani pelbagai persoalan mengenai agama, mana satukah yang benar?

Temui kebenaran ketika dalam perjalanan dari Menado ke Jakarta

AKHIRNYA pelayaran Samuel selamat tiba ke destinasi yang dituju, iaitu Tanjung Priok, Jakarta.
"Seharusnya saya gembira kerana akhirnya selamat kembali ke tanah air yang tercinta tetapi menjadi begitu penasaran dengan apa yang saya baca daripada al-Quran itu.

"Ini menyebabkan hati saya membuak-buak ingin membaca lebih lanjut mengenai Islam dan saya yakin al-Quran pasti ada jawapannya."

Tetapi sebaik mendarat, Samuel terus dikawal ketat oleh dua polis pengawal atas perintah Konsulat Indonesia di Singapura kerana dia sangat dikehendaki oleh pemerintah Indonesia ketika itu.

"Dengan berhati-hati dan curi-curi bagi mengelakkan diri daripada ditahan semula saya terus mencari Toko Buku Gunung Agung di Jalan Kwitang untuk membeli al-Quran terjemahan seperti yang dimiliki oleh Latoke.

"Saya meminta supaya kitab itu dibungkus rapi supaya tidak koyak atau terkena hujan, pada hal yang sebenarnya bagi mengelak daripada diketahui orang. Apatah lagi ramai mengetahui yang saya sebenarnya seorang paderi Kristian."

Samuel kemudiannya dibenarkan untuk kembali semula ke kampung halamannya di Menado. Namun tidak lama kemudian beliau dipanggil oleh Angkatan Tentera Darat Indonesia untuk membantu misi pendaratan di Irian Barat, sekali gus memerlukannya melaporkan diri di Jakarta.

"Dalam perjalanan dari Menado ke Jakarta inilah saya mengambil peluang dan kesempatan untuk membuka dan membaca kitab Terjemahan al-Quran itu.

"Saya membaca dan terus membaca yang menyebabkan saya menemui pelbagai kebenaran mengenai Islam. Saya mulai tahu dan faham bahawa ajaran agama asal saya salah semuanya," kata Samuel yang akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadah.

Semenjak itu, dia terus mengkaji mengenai Islam dari pelbagai sudut dan sumber terutama al-Quran dan hadis. Apa yang lebih penting, dia kembali kepada tugas asal saya, suma kali ini bergelar daie.

"Saya lakukan ini kerana ingin mengembalikan mereka yang dahulunya pernah menjadi mangsa seruan ajaran agama lama saya sehingga menyebabkan mereka murtad dari sebuah ajaran yang sangat benar," katanya.

Namun yang lebih mencabar lagi apabila tindakan Samuel yang kini lebih dikenali sebagai Sulaiman Taliwongso telah menimbulkan kemarahan di kalangan teman-teman paderinya dahulu.

"Hampir setiap malam, rumahnya tidak putus-putus dikunjungi paderi untuk mengajak saya berdebat dengan harapan mengembalikan saya semula kepada Kristian.

"Alhamdulillah saya mampu menghadapi serangan-serangan hujah mereka malah turut menyebabkan ada di kalangan paderi itu sendiri akhirnya mengakui mengenai kebenaran Islam," katanya.

Namun satu hal yang menjadi keprihatinan Samuel, umat Islam saat ini ramai yang tidak tahu mengenai ajaran agama mereka sendiri, bahkan semakin jauh dan asing dalam agama sendiri.

"Umat Islam mulai berpecah-belah dan mencintai hanya kelompok mereka sendiri di samping ramai juga yang hanya Islam pada nama dan warisan sahaja!" katanya.

Barisan ayat terakhir Sulaiman ini wajar kita renungi kebenarannya kerana ternyata Samuel tidak berdusta malah benar belaka!

 



http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=1223&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

Kahwin budak 11 tahun tidak sah


SITI Sarnan Mat Ail memimpin tangan anaknya sambil diiringi suaminya, Hussin Salleh meninggalkan Mahkamah Tinggi Syariah di Kota Bharu, Kelantan, semalam.

KOTA BHARU 22 Dis. 2010 – Tekanan yang ditanggung oleh seorang kanak-kanak perempuan berusia 11 tahun selama lapan bulan selepas didakwa dinikahkan oleh ayahnya sendiri dengan lelaki berusia 41 tahun, terlerai hari ini apabila Mahkamah Tinggi Syariah di sini memutuskan perkahwinan mereka tidak sah.
Keputusan tersebut disambut dengan linangan air mata kesyukuran oleh ibu kanak-kanak terbabit, Siti Sarnan Mat Ail, 42, selaku plaintif yang memfailkan permohonan membatalkan perkahwinan berkenaan.
Dalam permohonan itu, plaintif menamakan suaminya, Hussin Salleh, 54, defendan pertama manakala lelaki yang dikatakan bernikah dengan anaknya, Shamsudin Che Deraman atau dikenali sebagai ‘Sudin Ajaib’ defendan kedua.
Kanak-kanak tersebut yang hadir di mahkamah dengan memakai baju kurung biru berbunga merah dan bertudung warna krim dilihat resah di galeri awam sementara menunggu keputusan dibacakan.
Dalam keputusannya, Hakim Syarie, Abdullah Man berkata, mahkamah mendapati tidak ada asas untuk membatalkan perkahwinan tersebut kerana ia tidak mempunyai dokumen yang sah serta sijil nikah.
‘‘Pernikahan antara kedua-duanya hanya dakwaan pihak plaintif kerana tidak disokong dokumen yang lengkap untuk menjelaskan wujudnya pernikahan tersebut.
‘‘Bagaimanapun mahkamah mengambil kira peranan wali mujbir iaitu ayah kepada kanak-kanak tersebut yang mempunyai hak mengahwinkan anak perempuan mereka tanpa mengira usia. Persoalannya jika mengikut hak wali mujbir apakah perkahwinan itu sah atau tidak,’’ katanya.
Abdullah menegaskan, berdasarkan keterangan defendan dalam perbicaraan yang lepas, timbul perkara-perkara berunsur penipuan, paksaan dan ugutan semasa pernikahan itu berlangsung.
‘‘Mahkamah mendapati wali semasa memberi keterangan balas, seorang yang ‘betul’, tidak pandai beralasan dan hanya mengikut telunjuk orang lain, seolah-olah tidak mempunyai pegangan.
‘‘Walaupun wali terlibat dalam pernikahan tersebut tetapi tidak mempunyai niat untuk mengahwinkan anaknya itu,’’ ujar beliau.
Sehubungan itu, katanya, perkahwinan tersebut tidak sah mengikut hukum syarak dan Enakmen Keluarga Islam Negeri Kelantan 2002.
Abdullah sebelum itu turut mengesahkan bahawa mahkamah mempunyai bidang kuasa mendengar permohonan membatalkan pernikahan yang didakwa berlangsung pada 19 Februari lalu walaupun defendan kedua tidak pernah hadir ke mahkamah.
Katanya, akad nikah didakwa berlangsung sebanyak dua kali iaitu pertama kali di Madrasah Pakistan di Machang dan disusuli di sebuah hotel, Berek 12 di sini.
‘‘Plaintif mendakwa ketika akad nikah berlangsung, anaknya itu tidak ada bersama-sama dengan defendan sebaliknya ada bersamanya di kampung Jelawang, Dabong, Kuala Krai.
‘‘Apabila pulang ke rumah, defendan membawa anaknya keluar dan tidak pulang. Selepas empat hari keluar dari rumah mereka, plaintif diberitahu oleh suaminya, anaknya itu telah dinikahkan dengan Sudin Ajaib,’’ katanya.
Menurut Abdullah lagi, kanak-kanak itu kemudian ditemui seorang diri dalam keadaan lesu di sebuah madrasah di Batu Caves, Selangor pada 12 Mac lalu dan dimasukkan ke Hospital Sungai Buloh selama lima hari kerana mengalami tekanan.
Katanya, permohonan plaintif dikemukakan dengan alasan anaknya itu masih muda dan tidak tahu tanggungjawab sebagai seorang isteri manakala Shamsudin telah pun mempunyai tiga isteri serta tidak bekerja.
Menurut beliau, perkara itu disokong oleh isteri pertama Shamsudin, Rohana Ibrahim, 34, yang mengesahkan suaminya telah berkahwin tiga dan mengikuti kumpulan tabligh.
Sementara itu, Siti Sarnan yang diwakili peguam syarie, Mohd. Zaki Zainal Abidin ketika ditemui di luar mahkamah, melahirkan rasa syukur dengan keputusan tersebut dan berharap Shamsudin tidak lagi mengganggu hidup anaknya.
‘‘Syukur banyak-banyak kerana apa yang saya tuntut bagi pihak anak saya selama ini telah selamat, tidak ada apa-apa lagi hubungan antara Sudin dengan anak saya.
‘‘Saya tidak berdendam namun berharap Sudin jangan ganggu anak saya malah sejak perkara ini dihebahkan, dia juga ghaib begitu sahaja,’’ katanya.
Tambahnya, apa yang berlaku akan dijadikan pengajaran dan tugasnya kini menyekolahkan anaknya itu dan memastikan dia berjaya dalam Ujian Penilaian Sekolah Rendah (UPSR) tahun hadapan.
Hussin yang mengahwinkan anaknya itu pula berjanji akan lebih berhati-hati dalam urusan menjodohkan anaknya pada masa depan.

Source 
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=1223&pub=Utusan_Malaysia&sec=Mahkamah&pg=ma_01.htm

Thursday, December 16, 2010

Jangan berpolemik kahwin bawah umur

Original Source:
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=1214&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

KISAH pernikahan Siti Maryam Mahmod, 14, dengan seorang guru, Abdul Manan Othman, 23, awal Disember lalu dengan kebenaran Mahkamah Syariah menimbulkan rasa kurang senang segelintir masyarakat.
Bagaimanapun, jika kita mengkaji sirah Nabi SAW, baginda SAW telah memberi panduan kepada kita dalam hal ini.
Nas paling jelas adalah pernikahan baginda dengan Siti Aisyah r.a yang ketika itu berusia enam tahun.
Ia sebagaimana hadis yang bermaksud: Daripada Aisyah r.a. berkata: Nabi SAW melaksanakan pernikahan denganku ketika aku berumur 6 tahun. (riwayat Bukhari dan Muslim)
Wartawan MOHD. RADZI MOHD. ZIN dan jurufoto MOHD. NOOR MAT AMIN menemu bual Pensyarah Fakulti Undang-undang Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Madya Datin Noor Aziah Mohd. Awal bagi mengupas isu ini.


Mega: Apakah hukum Islam mengenai perkahwinan bawah umur?
NOOR AZIAH: Perkahwinan dalam Islam adalah sunnah Nabi Muhamad saw. Ia adalah satu ibadah dan satu-satunya cara menghalalkan hubungan seks atau kelamin antara seorang lelaki dan perempuan bukan mahram.

Pernikahan disebut mithaq yang bermaksud satu perjanjian suci dan mesti diupacarakan mengikut hukum Islam. Sabda Nabi SAW yang bermaksud: Nikah itu adalah sunnahku dan barang siapa yang tidak suka sunnahku, maka dia bukanlah daripada umatku. (riwayat Bukhari)
Untuk suatu pernikahan menjadi sah ia mestilah memenuhi keperluan berikut:

(a) Lelaki
(b) Perempuan
(c) Wali
(d) Saksi
(e) Ijab dan qabul.

Jika dilihat di atas, perkahwinan mempunyai nas tersendiri dan hukum yang sesuai mengenainya. Mengikut Iman Abu Hanifah, Ahmad ibn Hanbal dan Malik Ibn Anas, perkahwinan adalah sesuatu yang digalakkan namun bagi sesetengah individu ia menjadi wajib.
Pandangan umumnya adalah jika seseorang lelaki atau perempuan takut dia akan melakukan zina, maka perkahwinan adalah wajib baginya. Perkahwinan juga wajib bagi orang yang mempunyai nafsu seks yang tinggi.

Daripada sudut umur, Islam tidak menjadikan umur sebagai syarat perkahwinan. Ini jelas melalui perkahwinan Nabi Muhamad SAW dengan Aisyah. Dalam satu hadis Aisyah menyatakan yang dia berkahwin dengan Nabi semasa berumur 6 tahun dan perkahwinan itu disempurnakan semasa dia berumur 9 tahun. Dan mereka tinggal bersama selama 9 tahun sehingga kewafatan Nabi SAW.

Jadi dalam Islam, perkahwinan bawah umur atau kanak-kanak boleh berlaku dengan syarat ia mengikut hukum Islam.

Di Malaysia, di bawah undang-undang keluarga Islam di semua negeri, semua perkahwinan yang hendak diakadnikahkan perlu membuat permohonan dan diletakkan umur minimum iaitu 18 bagi lelaki dan 16 bagi perempuan. Namun pasangan masih boleh diakadnikahkan di bawah umur tersebut jika dibenarkan oleh Hakim Syarie.

Benarkan baligh antara faktor yang diambil kira untuk membenarkan perkahwinan bawah umur?
NOOR AZIAH: Jika dilihat kepada hadis mengenai perkahwinan Aisyah dengan Nabi SAW, baginda hanya mula tinggal bersama Aisyah apabila beliau sudah baligh.

Jadi, pernikahan boleh berlaku sebelum baligh. Asalkan wali memberi persetujuan dan kita tahu, dalam mazhab Shafie, wali mujbir boleh menikahkan anak gadisnya tanpa persetujuan anak gadis itu. 
Peranan wali sangat penting kerana perkahwinan tanpa wali adalah tidak sah. Jadi untuk mengadakan hubungan seks, anak gadis yang terlalu muda usianya yang dinikahi itu mesti telah baligh.

Apa maksud baligh? Daripada sudut bahasa baligh bermakna sampai kepada sesuatu atau penghabisan kepada sesuatu tujuan, tempat terhenti.
Tanda baligh bagi lelaki yang disepakati ulama adalah keluar air mani sama ada sewaktu jaga atau tidur, ketika bersetubuh ataupun bermimpi atau selainnya.
Tanda baligh bagi perempuan adalah haid atau hamil.

Konvensyen Hak Kanak-kanak (CRC) mentakrif kanak-kanak sebagai “seorang yang berumur di bawah 18 tahun atau di bawah umur tersebut jika umur dewasa dicapai lebih awal di negara tersebut. Jadi definasi baligh dan dewasa dalam Islam tidak bercanggah dengan CRC.

Menentukan had umur antara kanak-kanak dengan orang dewasa adalah hak negara. Penentuan had umur perlu dibuat kerana implikasi undang-undang berbeza di antara orang dewasa dengan kanak-kanak.
Di Malaysia, Akta Umur Dewasa 1971, mentakrif orang dewasa sebagai “yang berumur di atas 18 tahun” dan Akta Kanak-kanak 2001 mentakrif kanak-kanak sebagai yang “berumur di bawah 18 tahun”.

Namun semua perundangan Islam tidak memberi takrif kepada mumaiyiz dan baligh. Jadi ada kalanya percanggahan berlaku daripada sudut umur sahaja. Perlu juga diingat perbezaan dewasa dan kanak-kanak penting kerana jika kanak-kanak melakukan jenayah, mereka tidak dihukum seperti orang dewasa.