I am collecting every Islamic article from trusted sites. As my collection and sharing for everyone.

Monday, April 25, 2011

Nak kahwin susah mati lagi susah




PONTIAN: “Nak kahwin susah, mati nanti lagi susah...,” keluh seorang lelaki mengaku berketurunan Cina dan mengamalkan ajaran Buddha yang bingung apabila tidak dapat mendaftarkan perkahwinannya kerana namanya direkodkan sebagai Ali bin Bakar dan beragama Islam.

Ali atau Ah Tee, 23, mendakwa mengamalkan ajaran Buddha sejak lahir dan bukannya beragama Islam seperti tertera pada kad pengenalan (MyKad), sekali gus menyebabkan dia gagal mendaftarkan perkahwinannya di Jabatan Pendaftaran Negara (JPN) daerah ini, baru-baru ini.

“Saya orang Cina, bukan Melayu walaupun nama saya Ali Bakar,” katanya yang menetap di Pekan Nanas, dekat sini.

Katanya, dia mengalami kesukaran untuk mendaftar perkahwinan disebabkan MyKadnya tertulis nama Ali bin Bakar dan beragama Islam sedangkan dia tidak pernah mengamalkan agama terbabit sejak kecil.

Ali berkata, kekeliruan itu berpunca daripada bapanya, lelaki Melayu bernama Bakar Dolah yang berkahwin dengan ibunya, Suki, wanita Cina beragama Buddha dan hasil perkongsian hidup, mereka dikurniakan lima anak.

Wanita itu memeluk Islam untuk berkahwin dengan Bakar, tetapi masih mengamalkan ajaran asal sehingga menyebabkan masa depan lima anaknya bercelaru.

Menurut Ali, kakak sulungnya dinamakan mengikut nama Cina iaitu Ah Ni dan tidak mengalami sebarang kesukaran untuk mendaftar perkahwinan, tetapi abang dan adiknya dinamakan mengikut nama Melayu iaitu Lan, 25, adik lelaki, Hamid, 21, dan adik perempuan, Rani, 15.

“Inilah yang menjadi masalah kami empat beradik dan saya tidak tahu sama ada bapa saya Islam atau tidak kerana mereka tidak beritahu perkara sebenar. Saya, ibu serta adik-beradik mengamalkan ajaran Buddha,” katanya ketika ditemui di Pejabat Agama Pontian di sini, baru-baru ini.

Menurutnya, ketika hendak mendaftar perkahwinan, pegawai JPN terperanjat kerana MyKadnya tertulis nama Melayu dan pegawai terbabit membawanya ke pejabat agama daerah untuk meminta penjelasan lanjut.

Dia berkata, pendaftaran perkahwinannya terpaksa ditangguhkan buat sementara sehingga kemelut ini dapat diselesaikan.

Ali turut risau kemungkinan mayat mereka menjadi pertikaian jika mati kelak, sekali gus mengulangi apa yang berlaku terhadap bapanya.

Menurut sumber, bapa Ali seorang Melayu beragama Islam bernama Bakar Dollah dan mempunyai tiga isteri.

Isteri pertama dan kedua dipercayai berketurunan Melayu manakala isteri ketiga seorang Cina iaitu ibu Ah Tee.

Katanya, Bakar pernah memberitahu orang ramai bahawa dia bukan Islam, tetapi tiada rekod pendaftaran yang mengesahkan dia seorang berketurunan Cina atau beragama Buddha.

“Ketika Bakar meninggal dunia dan hendak dikebumikan Februari lalu, keluarga sebelah isteri Cinanya menuntut jenazah itu dikebumikan di tanah perkuburan bukan Islam, tetapi dihalang Jabatan Agama Johor.

“Akhirnya Bakar dikebumikan di Tanah Perkuburan Islam Mahmoodiah di Johor Bahru,” katanya ketika dihubungi.

Sementara itu, Ali berkata, ibunya kini menetap di Kota Tinggi bersama kakak dan adik bongsunya manakala dia bersama abangnya tinggal di Pekan Nanas.

Mengapa Saya Masuk Agama Islam

Mengapa Saya Masuk Agama Islam

oleh ZULKARNAIN (Eddy Crayn Hendrik)


TUJUH KEBENARAN ISLAM YANG MUTLAK.
 
    Doctor  Verkuyl,  Doctor  Kraemer,  Rifai  Burhanuddin lupa,
    demikian  pula  dengan  Pater  Grunnen,  bahwa   ada   tujuh
    kenyataan  mutlak yang dipunyai oleh Islam, yang tidak dapat
    dibantah oleh siapapun juga. Ia tidak  dapat  dibantah  oleh
    sejarah,  ia  juga tak dapat dibantah oleh Ilmu Pengetahuan,
    ia tidak terpengaruh oleh situasi dan  kondisi,  oleh  iklim
    dan  masa.  Mereka,  pendeta-pendeta dan pastor-pastor lupa,
    demikian pula sarjana-sarjana orientalis barat bahwa:
 
    1. Qur'an dengan bahasanya yang tetap sepanjang masa dan
       sama dimana-mana telah sanggup menciptakan iklim keIslaman
       yang merata mutlak. Ia akan dimengerti di Amerika, demikian
       juga di Inggris. Bila ia dibacakan di Jepang, maka ia juga
       dipahami oleh orang-orang India dan Pakistan, dan bila ia
       dibaca di negeri Belanda, maka Mesir, Libya, Indonesia akan
       mengerti, setidak-tidaknya mengenali bahwa itulah ayat-ayat
       Al Qur'an. Qur'an tidak pernah dirubah bahasanya dan ini
       saja sudah dapat dijadikan pegangan, bahwa isinya authentik
       asli. Beda dengan Injil yang telah melalui sedemikian banyak
       terjemahan, sehingga keaslian kata-kata mungkin telah
       menyimpang dari maksud semula. Ia disalin dari bahasa Ibrani
       ke bahasa Gerika, lalu ke bahasa Latin, dari Latin oleh
       Marthen Luther pada tahun 1521 disalin ke bahasa Jerman.
       Dari Jerman disalin pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda,
       Indonesia, Jawa, Minang, Timor dst. Sambil menyalin, maka
       atas pertimbangan politik(?) sipenyalin menterjemahkannya
       pula menurut "situasi dan kondisi" setempat. Kita lihat
       misalnya, kalau didalam Injil bahasa Belanda dan Inggris
       syarat masuk surga adalah Door bidden en fasten atau by
       praying and fasting, maka didalam Injil bahasa  Indonesia
       mereka mencukupkan hanya dengan doa, sedangkan fasting atau
       fasten atau puasanya dihilangkan.
 
    2. Al-Qur'an tidak bertentangan dengan Ilmu pengetahuan.
       Bacalah theorie La Place & Chamberlin, bacalah theorie
       kejadian bumi, maka Chamberlin menyebutkan: Bahwa bumi kita
       ini ialah terjadi dari gumpalan-gumpalan kabut yang
       bergulung-gulung semakin lama semakin padat, sehingga
       berpijar, dan kemudian mati pijarnya, lalu tumbuhlah
       kehidupan. Lalu cobalah kita buka Al-Qur'an surat
       tertulislah disana theorie itu: "Dan ingatlah ketika Aku
       menciptakan bumi ini dari suatu hamparan yang lalu
       bergulung-gulung." Qur'an surat Nuh 14 menulis tentang
       adanya tingkatan-tingkatan kejadian dari manusia, surat Al
       An'am 97 memuat theorie Astronomi. Dalam surat-surat yang
       lain dimuat pula theorie perkawinan tanam-tanaman (botani).
       Qur'an tidak serupa dengan Perjanjian Lama yang menolak
       theorie Galileo Galilei, Islam tidak seperti Kristen yang
       telah begitu banyaknya membunuhi kaum cerdik pandai seperti
       Galileo Galilei, Johannis Heuss dan sebagainya.
 
    3. Al-Qur'an tidak menentang fitrah manusia. Itulah sebabnya
       didalam Islam tidak diakuinya hukum Calibat atau
       pembujangan. Manusia dibuat laki-laki dan perempuan adalah
       untuk kawin, untuk mengembangkan keturunan. Maka itu ajaran
       Paulus yang mengatakan bahwa ada "lebih baik" laki-laki itu
       membujang seperti aku dan perempuan itu tidak kawin,
       ditentang oleh Islam. Bukankah monogami akhirnya melibatkan
       dunia Kristen dalam lembah pelacuran? Bukankah orang-orang
       Italia yang monogami itu akhirnya mempunyai juga istri-istri
       yang gelap? Dan bukankah Amerika, Swedia dll. akhirnya
       menjadi bejat akhlaknya sebab mempertahankan monogami? Maka
       dunia akhirnya menetapkan: Poligami adalah bijaksana.
       Poligami mencegah manusia daripada zinah dan pelacuran.
       Tidak heran bila surat An Nisa ayat 3 kemudian membolehkan
       orang untuk Poligami, yaitu poligami yang terbatas: 4.
 
    4. Qur'an udak bertentangan dengan aqal dan fikiran manusia.
       Itulah sebabnya Islam sangat menghargai akal dan fikiran
       yang sehat. Kaidah Islam tidak dapat menerima doktrin "Tiga
       tetapi satu," sebab tiga tetapi satu bertentangan dengan
       ratio. Ummat Islam sama sekali tidak dapat memahami
       bagaimana Paus, seorang manusia, dapat menjabat Wakil
       Tuhan(Ficarius Filii Dei). Paus mewakili urusan Allah untuk
       dunia ini, memberikan amnesti, abolisi dan grasi atas ummat
       manusia yang berdosa dengan mandaat sepenuhnya dari Allah.
       Demikian pula, kalau kami yang tidak tahu menahu akan
       perbuatan Adam harus memikul dosa Adam. Dan akal lebih tidak
       bisa menerima lagi, kalau Allah yang pengasih penyayang itu
       akhirnya lalu menghukum mati anaknya sendiri demi menebus
       dosa Adam dan anak cucu Adam. Maka itulah Islam tidak
       mengakui dosa keturunan, juga tidak mengakui adanya
       "Sakramen pengakuan dosa" yang memanjakan manusia dan
       mengajar manusia untuk tidak bertanggung jawab itu.
 
    5. Islam tidak bertentangan dengan sejarah.  Islampun dengan
       sendirinya tidak mendustai sejarah. Putih hitamnya sejarah
       Islam, diakuinya dengan jujur. Ia, misalkan mengalami
       tragedi pahit seperti "Night of St. Bartolomeus" pastilah ia
       mengakui, dan ummatnya mengetahui. Islam selalu sesuai
       dengan situasi d.an kondisi, ia bukannya menyesuaikan diri,
       tetapi diri (dunia maksudnya) yang harus menyesuaikan
       dengannya.
 
    6. Oleh sebab itulah maka Islam tetap bertahan. Ia selalu
       maju seirama dengan kemajuannya zaman. Empat belas abad
       sudah lamanya Islam tetap dalam suatu kesatuan syareat dan
       hakekat. Seribu empat ratus tahun lamanya hukum-hukumnya,
       undang-undangnya, shalat dan kiblatnya, puasa dan hajinya
       tetap berjalan. Ia tidak ambruk setelah ilmu pengetahuan
       lebih maju, ia juga tidak colaps menghadapi kebangkitan
       humanisme dan sosialisme. Adapun atau kalaupun dikatakan
       mundur, sebenarnya ialah ummat artinya orang-orangnya apakah
       itu person atau kelompok. Mengapakah ummatnya mundur? Sebab
       ia telah meninggalkan Qur'annya. Ia berbeda dengan ajaran
       atau hukum gereja Katolik yang selalu berubah-ubah boleh -
       tidak boleh dan sekarang boleh lagi kawin. Padahal soal
       kawin adalah soal keputusan Tuhan. Adalah keputusan Tuhan
       selalu berubah-ubah dan dapat ditentang oleh manusia?
 
    7. Qur'an tak dapat disangkal ]agi, adalah pegangan hidup
       dan mati, dunia dan akhirat. Qur'an ternyata merupakan
       landasan idiil dan spirituil, landasan hidup di dunia dan
       di akhirat. Qur'an, tidak hanya memuat perkara akhirat saja,
       tetapi juga perkara dunia. Itulah sebabnya bila kita membaca
       Al-Qur'an kita akan menemui bermacam-macam hukum, apakah itu
       hukum pidana, perdata, atau hukum antar manusia dan
       kemasyarakatan. Demikian pula ia memuat hukum dengan
       lengkapnya hukum perkawinan dan sopan santun perang.
 
http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/antar/Eddy/Tujuh.html 

Thursday, March 17, 2011

Konsep ummi Nabi Muhammad

SEBAHAGIAN besar sarjana Islam seperti al-Tabari, al-Razi dan al-Baydawi mengaitkan sifat ummi kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan untuk membuktikan bahawa kitab al-Quran adalah wahyu Allah SWT yang bersifat mukjizat dan diturunkan kepada baginda SAW melalui perantaraan malaikat Jibril a.s.Malah, menurut pandangan Subhi Saleh, al-Quran itu adalah kalam Allah yang bermukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Jibril a.s., ditulis dalam beberapa mushaf, dipetik daripada riwayat yang mutawatir dan membacanya merupakan satu ibadat.

Berdasarkan fakta ini, Nabi Muhammad SAW umumnya dikenali sebagai seorang yang bersifat ummi.Menurut mereka, sifat ummi ini termasuk dalam salah satu mukjizat yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad SAW. Kerana belajar menulis atau membaca sebenarnya adalah merupakan satu proses yang tidak begitu sukar sehingga orang yang dianggap kurang pintar pun boleh mempelajarinya. Namun, orang yang langsung tidak belajar menulis atau membaca boleh dianggap mempunyai kelemahan yang besar dalam sudut kefahaman. Oleh itu, anugerah kekuatan akal dan kefahaman yang jitu terhadap ilmu seperti yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW boleh dikatakan sebagai satu mukjizat yang besar. Dilihat daripada sudut bahasa, perkataan ummi berasal daripada perkataan umm. Sarjana bahasa mempunyai pandangan yang berbeza tentang maksud ummi: golongan pertama mengatakan bahawa ummi bermaksud orang yang tidak tahu menulis atau membaca. Pandangan ini dikemukakan oleh Ibn Faris, Ibn Manzur, Abu Ishaq dan Ibn al-'Arabi.

Mereka percaya maksud ummi mempunyai kaitan dengan keadaan bayi yang tidak tahu apa-apa termasuklah menulis dan membaca semasa dilahirkan oleh ibunya. Pandangan ini diambil berdasarkan ayat 78 dalam surah al-Nahl, bermaksud: dan Allah mengeluarkan kamu daripada perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan ia mengurniakan kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta hati. Golongan kedua mengatakan bahawa ummi bermaksud orang yang tidak tahu menulis atau membaca kitab.

Pandangan ini dinyatakan oleh al-Raghib berdasarkan hadis yang bermaksud: Kami ummah ummiyyah tidak menulis dan tiada bahan-bahan bertulis. (riwayat Bukhari). Golongan ketiga pula yang diwakili oleh al-Farra', al-Zajjaj dan al-Zabidi mengatakan ummi bermaksud orang yang tidak mempelajari atau mempunyai sebarang kitab. Mereka mengemukakan ayat 157 dalam surah al-A'raaf sebagai sandaran iaitu: Orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang namanya tertulis di dalam Taurat dan Injil yang terdapat di sisi mereka. Pengarang Arabic-English Lexicon, E.W. Lane berpendapat, ummi berasal daripada perkataan ummah yang merujuk kepada bangsa Arab (gentile) dan juga merujuk kepada orang yang tidak mempunyai sebarang kitab.. Menurut beliau, perkataan ummi turut boleh digunakan kepada sesiapa sahaja yang berada dalam keadaan yang sama iaitu tidak tahu menulis dan membaca. Di dalam al-Quran, perkataan ummi disebut sebanyak enam kali. Dua kali disebut dalam bentuk kata tunggal iaitu ummi dan empat kali disebut dalam bentuk kata majmuk iaitu ummiyyun atau ummiyyin. Al-Quran menyebut perkataan ummi pada dua tempat iaitu ayat 157 dan 158 surah al-A'raaf.

Kedua-dua ayat ini merujuk khusus kepada Nabi SAW. Ada pun perkataan ummi dalam bentuk kata majmuk pula disebut pada ayat 78 surah al-Baqarah, ayat 20 dan 75 surah ali 'Imran, dan ayat 2 surah al-Jumuah.Berdasarkan empat ayat al-Quran ini, ayat yang pertama merujuk kepada golongan Yahudi dan tiga ayat yang berikutnya merujuk kepada golongan Arab yang tidak mengikuti kitab-kitab samawi (heathen).Jika dilihat sudut masa penurunan ayat-ayat al-Quran itu pula, dua ayat dalam surah al-A'raaf di atas termasuk di dalam kategori ayat Makkiyyah. Empat ayat lagi yang merujuk kepada golongan Yahudi dan Arab termasuk di dalam kategori ayat Madaniyyah.

Oleh itu, berdasarkan pembahagian ini sifat ummi boleh dilihat daripada dua zaman iaitu zaman sebelum Nabi Muhammad SAW menjadi nabi dan zaman selepasnya. Fakta yang mengatakan bahawa Nabi SAW sebelum menjadi nabi tidak tahu membaca dan menulis berdasarkan ayat 48 surah al-Ankabut: Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andai kata kamu pernah membaca dan menulis, benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu.Maksud ayat ini, Nabi SAW tidak pernah membaca dan menulis sebelum baginda diangkat menjadi nabi dan rasul. Ayat ini juga menjadi bukti al-Quran adalah mukjizat yang diturunkan kepada Nabi SAW, sekali gus menolak keraguan yang ditimbulkan oleh golongan ahli kitab dan musyrik Mekah.

Dalam ayat yang lain, Nabi SAW menolak tuduhan golongan musyrik Mekah dengan berhujah: Jikalau Allah menghendaki, nescaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak pula memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya, maka apakah kamu tidak memikirkannya? (Yunus: 16).Menurut al-Razi, tujuan ayat ini adalah menjelaskan bahawa golongan musyrik Mekah tahu Rasulullah yang tinggal di kota yang sama sememangnya tidak tahu membaca dan menulis dan tidak pernah mempelajari ilmu membaca dan menulis daripada sesiapapun.

Justifikasi lain adalah berdasarkan fakta sejarah. Sejarawan Islam telah mencatatkan bahawa proses keilmuan sudah bermula pada zaman sebelum kedatangan Islam lagi. Al-Baladhuri, misalannya menyebut bahawa kebanyakan orang Arab Hijaz tidak tahu membaca dan menulis. Beliau telah menyenaraikan seramai 17 lelaki dan tujuh wanita yang mahir dalam membaca dan menulis. Antaranya yang terkenal ialah seperti Umar b. al-Khattab, Ali b. Abi Talib, Uthman b. Affan, Mu'awiyah b. Abi Sufyan, Hafsah bt. Umar, Aishah bt. Abi Bakr dan Umm Salamah. Dalam Tabaqat Ibn Sa'd, terdapat beberapa lagi senarai nama sahabat yang tahu menulis dan membaca. Apabila meneliti tulisan dua sejarawan ini, tidak pula ditemui nama baginda SAW tercatat dalam senarai itu. Fakta menunjukkan Nabi SAW sesudah menjadi nabi boleh membaca dan menulis juga bersandarkan kepada ayat 48 surah al-Ankabut.

Sebahagian sarjana seperti al-Harawi, al-Naysaburi dan al-Sya'bi berpandangan, ayat itu bermaksud Nabi Muhammad SAW hanya tidak tahu membaca dan menulis sebelum menjadi nabi, tetapi selepas menjadi nabi, baginda SAW harus tahu membaca dan menulis. Hujah mereka adalah ayat penafian dalam ayat 48 surah al-Ankabut hanya bertujuan menolak keraguan orang musyrik Mekah tentang kenabiannya. Namun, sesudah baginda SAW dilantik menjadi nabi, isu ini sudah tidak lagi relevan.

Oleh itu, berdasarkan pendapat ini, Nabi Muhammad SAW harus tahu membaca dan menulis melalui tunjuk ajar Malaikat Jibril a.s.Terdapat sarjana lain yang berpendapat kemahiran Nabi SAW dalam membaca dan menulis diperolehi tanpa mempelajarinya seperti orang lain dianggap satu mukjizat. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Alusi, al-Baji dan Ibn Abi Syaibah. Mereka juga mengemukakan hadis untuk menyokong hal ini. Hadis itu bermaksud: "Nabi SAW tidak mati sehinggalah baginda tahu menulis dan membaca".

Kesimpulannya, perbincangan di atas bolehlah dibahagikan seperti berikut:

lTerdapat pendapat yang mengatakan Nabi Muhammad SAW tetap ummi baik sebelum mahupun selepas menjadi nabi dan sifat ini tidak terjejas dengan kewujudan perkataan 'sebelumnya' dalam ayat 48 surah al-Ankabut.

*Ada pendapat mengatakan Nabi SAW tidak lagi ummi selepas menjadi nabi berdasarkan kewujudan perkataan yang sama dalam ayat yang sama;

*Sifat ummi sebelum kenabian ialah jelas dan sukar untuk dinafikan. Pendapat ini diambil berdasarkan nas dan fakta sejarah;
 
*Sifat ummi selepas kenabian itu yang menjadi polemik dalam kalangan para sarjana. Hal ini disebabkan oleh pemahaman mereka yang berbeza terhadap nas dan juga fakta sejarah.

Waspada dalam berkata-kata

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari pernahkah kita terfikir untuk berhati-hati ketika meluahkan setiap perkataan daripada mulut kita?

Sememangnya boleh dikatakan semua orang memahami betapa pentingnya apabila mahu berkata-kata kerana jika tersilap langkah mereka boleh terjerumus ke dalam dosa.

Kita hanya sekadar menguar-uarkan pepatah kerana mulut badan binasa tetapi ramai yang tidak mematuhinya.

Pada dasarnya, ucapan mahupun perkataan merupakan cerminan jiwa. Maka itu, Nabi Muhammad SAW berpesan pilihlah kata-kata yang baik.

Dalam hal ini, baginda merupakan teladan terbaik. Setiap saat, Rasulullah senantiasa menggunakan kata yang baik dan lembut untuk umatnya.

Baginda menjauhkan kata-kata yang buruk, kasar, dan keji. Bahkan, Rasulullah sangat membenci jika ada kalimat yang digunakan tidak pada tempatnya yang sesuai. Misalnya, ada perkataan yang baik dan bermakna mulia namun diucapkan kepada orang atau sesuatu yang sebenarnya tidak berhak menyandang ucapan itu.
Begitulah juga sebaliknya, jika ada kalimah buruk dan bermaksud menghina tetapi ditujukan untuk orang atau sesuatu yang mulia.

Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian memanggil orang munafik dengan panggilan tuan kerana jika dia memang seorang tuan, maka dengan panggilan itu kalian telah membuat Tuhan kalian murka".
Selain itu, umat Islam diminta menjaga ucapan yang mengandungi syirik. Seperti ucapan, "Aku meminta pertolongan kepada Allah dan kepadamu".

Sesuai tuntutan Rasulullah, mereka yang mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu bererti telah menyekutukan atau sepadan bagi Allah SWT.

Dalam buku Berakhlak dan Beradab Mulia, Contoh-contoh dari Rasulullah, Saleh Ahmad asy-Syaami menambahkan, kalimat bernada mencela juga sebaik-baiknya dihindari. Peringatan itu juga disampaikan oleh Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim dan Muttafaaq alaih.

Rasulullah mengatakan: "Allah SWT berfirman, Anak keturunan Adam menyakiti-Ku, kerana mereka mencela masa, padahal Aku adalah Zat yang menciptakan dan menguasai masa. Aku yang menggantikan malam dan siang". Asy-Syaami menyatakan, perkataan yang mencela melahirkan kesalahan besar.

Menurut beliau, celaan yang diucapkan itu sebenarnya akan mengenai diri mereka sendiri. "Mereka telah berkata hal-hal yang tak patut," katanya.

Asy-Syaami menegaskan, ucapan-ucapan yang tak baik sama sekali tidak mendatangkan manfaat apa pun, sebaliknya, menjerumuskan seseorang ke jalan kebatilan. Ucapan yang buruk juga mendatangkan perpecahan dan pertikaian antara sesama manusia.

Termasuk yang perlu dijauhi adalah berkata bohong. Islam tidak memberikan keringanan bagi umatnya yang berbohong.

Ibn Qayyim dalam kitab al-Fawa'id mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap pembohongan. Sebab, kebohongan akan merosakkan cara pandang umat terhadap fakta yang sebenarnya.

Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim mengatakan, pembohongan akan mengiring pelakunya kepada kejahatan dan kejahatan akan menjerumuskan ke dalam neraka.

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2011&dt=0317&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_02.htm

Khat bawa Karima kepada Islam


Keindahan khat yang terdapat dalam Masjid Al Hamra, Sepanyol memikat hati Karima Burn seterusnya membawa beliau kepada Islam.


SAYA duduk di dalam Masjid Al Hambra, Sepanyol sambil menatap tulisan yang terukir indah di dinding-dindingnya. Iaitu tulisan yang paling indah, dengan keindahan yang sukar untuk diungkap melalui kata-kata.
"Walaupun saya tidak memahami walau sepatah pun tapi hati saya benar-benar sudah terpaut pada keindahan dan keunikan tulisan tersebut.

"Lalu saya bertanya asal usul bahasa dan tulisan tersebut dari mereka yang berada di masjid tersebut, lalu mereka menjawab bahawa tulisan itu adalah perkataan-perkataan dari Bahasa Arab," cerita Karima Burn ketika pertama kali beliau mengenal tulisan dan bahasa Arab.

Sejak itu tulisan atau kaligrafi khat sangat meninggalkan kesan dalam hatinya sehinggakan dengan pemandu pelancong yang membawanya melawat sekitar Kota Al Hambra Grenada Sepanyol diminta mendapatkan risalah-risalah dan buku panduan melancong dalam bahasa Arab.

"Bahasa Arab, adakah anda tahu berbahasa Arab?," tanya si pemandu pelancong.
"Saya tidak tahu tetapi saya ingin mempelajarinya dengan kamu mendapatkan juga terjemahannya dalam bahasa Inggeris," jawab Karima.

Di hari terakhir beliau melancong di Grenada itu, Karima banyak membawa pulang buku panduan dan lain-lain buku yang memuatkan keindahan tulisan khat, yang sudah pasti kesemuanya dalam bahasa Arab.
Sehinggakan baju-baju beliau 'dihadiahkan' kepada orang lain, semata-mata untuk memuatkan begnya dengan buku-buku itu. Baginya buku-buku itu ibarat emas berbanding baju-baju yang dibeli dengan harga yang mahal itu.

"Saya sering berkhayal betapa indahnya jika saya mampu menulis tulisan yang unik dan cantik itu. Sejak itu juga saya terfikir bahawa pasti ada sesuatu yang berharga dari sebuah budaya yang mempunyai bahasa dan bentuk tulisan yang sangat artistik itu.

"Lalu saya bertekad untuk mempelajari semua ini saat saya bakal memulakan pengajian di universiti," katanya.
Sebenarnya Karima ingin melihat dunia terlebih dahulu sebelum memulakan alam pengajian di universiti. Namun yang sebenarnya Karima sedang mencari jawapan dalam kebenaran beragama.

"Saya sudah meninggalkan gereja beberapa bulan sebelum itu yang menyebabkan saya buntu mengenai alternatif agama apa yang boleh memberikan jawapan yang paling tepat dalam pelbagai persoalan kepercayaan dan keagamaan," katanya.

"Walaupun saya rasa agak bersalah meninggalkan gereja dan tidak taat kepada Kristian tetapi akibat banyak ajaran yang bertentangan sehinggakan terdapat pelbagai versi Kitab (Injil) menyebabkan saya bingung dan sukar untuk memahami semua ini," katanya.

Jadi tanpa disengajakan beliau memilih selatan Sepanyol dan menyaksikan sendiri keindahan peninggalan Islam yang sangat agung di Seville dan Grenada. Ia menyedarkan Karima bahawa kaligrafi khat itu merupakan jawapan atas semua keresahan yang melanda jiwanya selama ini.


http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2011&dt=0317&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

Wednesday, March 2, 2011

與姑姑發生肢體衝突失蹤‧16歲華裔少女變回教徒


陳夢珠聲淚俱下,要求孫女回到身邊。(圖:星洲日報)

(檳城‧大山腳1日訊)16歲華裔少女孫佩佩變西蒂艾莎阿都拉!
16歲未成年華裔少女在監護人祖母不知情下,被檳州宗教局接納信奉回教,少女的祖母心碎落淚,馬華公會要檳州首席部長林冠英解釋。
來自大山腳柏瑪當峇都的孫佩佩,6歲時父親因血癌去世,母親也在父親去世後失去蹤影,在家排行第五唸到初中一即輟學的孫佩佩,與另5名兄弟姐妹從小由祖母陳夢珠照顧。
少女的祖母、六姑孫麗音及六姑丈鍾貴森,今日向馬華檳州公共服務及投訴局主任陳德欽求助。在場者包括馬華大山腳區會主席劉一端及馬華中央宗教局副主任許振南律師。

報案指被姑姑打傷
陳德欽說,孫佩佩於今年1月11日與五姑發生肢體衝突後失蹤,孫佩佩也於當天向警方報案指被姑姑打傷,警方調查後,孫佩佩也向社會福利局申請保護令。
他說,威中社會福利局官員莫哈末查利於今年2月8日,根據2001年兒童保護法令,向孫佩佩的五姑孫麗鳳發出通知書,指福利局要暫時給予孫佩佩庇護,直到她的案件於今年3月17日被帶上大山腳兒童法庭。

被福利局送往孤兒院
陳德欽說,社會福利局於今年2月8日發出的保護令通知書,還是使用“孫佩佩”這個名字;不過,根據檳州宗教局信奉回教註冊官莫哈末加瑪魯丁發出的信奉回教證書(暫時),孫佩佩於今年1月19日,已經在威中宗教局自願信奉回教,取回教名為西蒂艾莎阿都拉。
他說,孫佩佩在威中福利局發出保護令的當天,即2月8日,就被福利局送去玻璃市亞婁孤兒院(RUMAH KANAK KANAK ARAU)寄宿,以等待3月17日上庭。

姑丈探望驚見佩佩戴頭巾
陳德欽說,未成年的孫佩佩被檳州宗教局接納自行決定信奉回教的事件,是孫佩佩的六姑丈鍾貴森於2月24日中午12時許,前往亞婁孤兒院探望她時,驚見孫佩佩戴回教徒女性頭巾。
他說,鍾貴森向孤兒院詢問下,孤兒院指孫佩佩送來孤兒院之前已經信奉回教,孤兒院也出示威中宗教局發出的信奉回教證書。
陳德欽日前已陪同鍾貴森前往威中警察局報案。馬華將提呈備忘錄給檳州首長林冠英,同時不排除會通過法律途徑解決這起事件。

祖母不贊成孫女信奉回教
少女的祖母陳夢珠在新聞發佈會聲淚俱下,她聲言不贊成孫女信奉回教,也不知道孫女為何信奉回教。
“我們家裡是拜神的,沒有必要信奉回教。”
她說,她要知道為何會這樣?孫女的年齡也不足以讓她自己做決定!
她希望孫女可以回到身邊,不要讓她成為回教徒。
劉一端:少年信回教
須家長同意
劉一端說,聯邦憲法規定,小過18歲的少年要成為回教徒,必須得到家長的同意。
“林冠英必須利用權力阻止及在孫佩佩信奉回教的式證書未發出前,撤銷她信奉回教的註冊。”

第二宗未成年少女改信回教
擁有回教律師專業文憑及廿餘年執業經驗的許振南說,孫佩佩的案例是國內第二起未成年少女被接納信奉回教的案件。
他說,80年代發生的案例,聯邦法院已判決不足18歲的未成年少年,必須獲得家長或監護人的同意,才可以改教信奉回教。
許振南說,1986年聯邦法院判例“TEOH ENG HUAT vs KADHI MOT OF PASIR MAS KELANTAN”,已經闡明未成年人未經家長或監護人同意,改教信奉回教違反聯邦憲法。
他說,孫佩佩的案件,她的家長和監護人祖母都沒有同意未滿18歲的她改教信奉回教,在法律上,只有家長同意才有效。
星洲日報‧2011.03.01

Sunday, February 20, 2011

Pastikan Islam kekal agama Persekutuan

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=0409&pub=Utusan_Malaysia&sec=Muka_Hadapan&pg=mh_03.htm

KUALA LUMPUR 8 April – Persatuan Peguam Muslim Malaysia mahu kerajaan memastikan peranan jawatankuasa khas berhubung isu antara agama yang diumumkan penubuhannya kelmarin mengambil kira Islam sebagai agama Persekutuan.

Presidennya, Zainul Rijal Abu Bakar berkata, justeru pihak yang terlibat dalam jawatankuasa itu tidak boleh sesekali mahu menyamakan hak semua agama kerana Islam punya kedudukan istimewa di sisi Perlembagaan.
Kata beliau, ini supaya jawatankuasa tersebut tidak menjadi jalan keluar kepada kegagalan menubuhkan Suruhanjaya Antara Agama (IFC) yang ditolak kerajaan dan umat Islam sebelum ini.

‘‘Bagaimanapun umat Islam tidak menolak sebarang dialog bagi memupuk persefahaman dan keharmonian antara agama yang ada di negara ini.
‘‘Namun yang menjadi masalah ialah usaha dialog seumpama itu disalah guna bagi mencampuri urusan agama lain seperti IFC dan ini perlu dipastikan kerajaan tidak berlaku pada jawatankuasa tersebut,’’ katanya kepada Utusan Malaysia di sini hari ini.

Zainul juga berharap jawatankuasa itu akan menjadi dialog yang mampu mengukuhkan perpaduan seluruh rakyat negara ini.

Justeru katanya, untuk mencapai hasrat tersebut, jawatankuasa berkenaan harus dipastikan bergerak dalam landasan menghormati kedudukan istimewa Islam sebagai agama Persekutuan.

‘‘Kita tolak IFC sebab ia usaha untuk ubah dialog ‘inter agama’ kepada ‘intra agama’. Itu yang umat Islam tak boleh terima,’’ katanya.

Tambahnya, dialog antara agama bukanlah sesuatu yang baru kepada umat Islam sebaliknya ia telah lama wujud di negara yang berbilang kaum.

Sementara itu, Penasihat Persatuan Peguam Syarie Malaysia, Datuk Muhamad Burok berkata, sekiranya jawatankuasa khas itu berjaya diadakan, ia mestilah bersifat bebas tanpa perlu wujud campur tangan pihak tertentu khususnya daripada parti politik.

Sehubungan itu katanya, jawatankuasa itu perlu dipimpin oleh mereka yang benar-benar pakar agar kredibiliti dan peranannya sebagai badan yang mewujudkan persefahaman di antara agama-agama diyakini dan diiktiraf oleh rakyat.

Dalam pada itu, Presiden Persatuan Peguam Syarie Malaysia, Muhamad Isa Abdul Ralip berkata, jawatankuasa itu wajar diwujudkan untuk menyelesaikan masalah berkaitan agama namun ia perlu dilarang sama sekali mempertikaikan kedudukan agama Islam sebagai agama Persekutuan.

Justeru katanya, jawatankuasa itu perlu dipantau agar tujuan penubuhannya tidak lari daripada landasan yang ditetapkan.

“Sekadar dialog tiada masalah namun sekiranya ia dijadikan medan untuk memperjuangkan kesamarataan antara agama, ini yang perlu dihalang,” katanya.